Sepak Pojok

Dilema Wasit Dammam Cup Dari Tahun ke Tahun

Di tengah gegap gempita even sepak bola tahunan Dammam Cup (DC), terselip kegundahan yang “dirasakan oleh yang merasakannya.” Utamanya, galau tersebut sangat dirasakan oleh tim panitia pelaksana.

Bagaimana tidak, di saat turnamen setingkat tarkam (baca: amatir), ada ekspetasi yang melebihi kapasitas. Ini, di antaranya tuntutan agar panitia penyelenggara DC menunjuk wasit pertandingan yang berkompeten, meski tidak sampai level profesional.

Tidak hanya perwasitan, tetapi juga dalam peraturan atau tata tertib turnamen yang dibuat. Sorotan tajam atau kritik tersebut memang tidak ada yang salah, hanya saja kadang lupa bahwa yang tertuang dalam tatib merupakan hasil diskusi dan kesepakatan bersama di “Technical Meeting.”

Dan seterusnya, banyak hal yang selalu menjadi “target kesalahan” atau kemarahan tim peserta adalah panitia penyelenggara.

Tidak diragukan, segelintir orang yang pernah merasakan terlibat menjadi panitia DC, dapat mengerti bagaimana mumetnya menjadi panitia turnamen sepakbola antar warga Indonesia di Sharqiya Saudi ini.

Tetapi meskipun demikian, sampai tiba di DC2019 dengan format mini soccer saat ini pun, masih beruntung ada yang “rela” menjadi panitia, alhamdulillah.

Tulisan ini bukan untuk membela atau mencari alasan panitia jika ada kekurangan atau kesalahan untuk minta dimaklumi atau dimaafkan, tetapi tidak lebih agar semua yang terlibat agar bertindak secara proposional.

Dilema Wasit Pertandingan
Wasit yang tidak profesional atau dalam bahasa lain kurang kompeten, merupakan “masalah laten” dalam dunia persepakbolaan masyarakat Indonesia di Sharqiya.

Semua orang mafhum, bahwa panitia, pemain, juga wasit tidak lebih dari seorang ekspatriat yang bekerja di perantauan. Kelebihan skill dalam dunia sepakbola, termasuk menjadi wasit, merupakan bonus anugerah Allah Ta’ala.

Setiap tahun, panitia DC selalu meminta kepada tim peserta untuk mengutus wasit, membantu berjalannya turnamen. Kenyataannya, hampir semua tim merasa tidak memiliki wasit, meskipun panitia siap memberikan apresiasi atas tugas tersebut.

Kaderisasi selama ini hanya berkutat terhadap pemain, tidak untuk wasit. Beberapa tahun silam, penggiat sepak bola di DC sempat mengusulkan diselenggarakan “Klinik Wasit,” untuk membina wasit yang telah ada dan melahirkan wasit baru.

Kebetulan, salah seorang pejabat di KBRI Riyadh memiliki sertifikat wasit tingkat nasional yang siap mentraining siapa saja yang mau menjadi wasit. Tetapi rencana ini bertepuk sebelah tangan, respon dari tim peserta DC kala itu nihil.

Ini dilematisnya, tuntutan yang tinggi sekaligus harapan panitia DC menghadirkan wasit yang mumpuni, tetapi minim dukungan dari tim peserta. Nah, disaat terjadi perbedaan pandangan atas cara kepemimpinannya, wasit yang telah diusahakan dengan susah payah pun menjadi target kesalahan.

Bayangkan, jika wasit yang eksis saat ini, yang segelintir itu, kemudian merasa terintimidasi, kurang kuat mental, karena hujatan, cacian, dan segala kesalahan ditimpakan kepadanya oleh sebagian orang yang kecewa, lantas mengundurkan diri? Kira-kira, adakah yang mau dan mampu menjadi wasit yang lebih baik dari yang ada saat ini? Dan panitia DC siap memberikan apresiasi yang proposional…… Adakah?

Advertisements

One comment

  1. Jika ada Mobilisasi kedatangan hingga kepulangan Saya sangat siap, Karena dipastikan Pada tahun ini Mantan Best Player 2019 Yang Berposisi Dibawah Misar Gawang Akan Gantung Sepatu Diturnamen kedepan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: